Keinginan tidak harus sejalan dengan kenyataan,, saat aku memandang kehidupan ini,,ingin itu yang ku mau namun segalanya sudah menjadi kehendak dan ketentuan yang memiliki dunia dan kehidupan ini yaitu Allah azza wa jalla.
Seiring berjalannya waktu yang aku lalui dalam hidup ini banyak kenyataan pahit yanng melukai dan membuat bekas yang menyisakkan kepedihan bahkan mempengaruhi kepribadian dan sudut pandang dalam berpikirku.
Luka hati yang terjadi bukan yang aku mau, rasa pahit ini dalam dada.. tangis malamku yang ku lalui,,
Tunjukan jalan-Mu ya Rabb, jalan terang-Mu yang mampu mengembalikan diriku kedalam kebahagiaan ini.
Mampukah aku bertahan menyusurinya? Hanya dengan bantuan-Mu ya Rabb.. yang mampu menerangi jalan dan langkahku..
Malam semakin larut namun mataku tak beranjak mau memejamkan untuk tidur. Bayangan itu masih melekat dalam ingatanku.. aku hannya manusia bodoh yang hanya bisa melihat kejadian tragis lalu berdiri saja dan tak mampu berbuat apa-apa. Mengapa? Tuhan aku sebenarnya aku ingin berbuat sesuatu ketika itu namun apa dayaku..
Kejadian itu,, anak kecil yanng tak berdosa di siksa oleh tawanan anggota geng,
dia meminta uang hasil ngamen itu secara paksa, ku lihat air mata yang mengalir di wajah nungilnya,, dalam bis aku hanya bisa diam. Maafkan aku, aku tidak bisa berbuat untuk membantumu dik..
Oh.. tuhan apakah ini yang dinamakan hidup.. aku masih bersyukur memiliki tempat tinggal dan makanan untuk hari esok.
Setiap aku lihat di bawah jembatan, di sekitar tempat mangkal bis berderet kulihat banyak orang tergeletak,, mengusap peluh keringatnya demi mengais rejeki hari ini. Sedangkan dibelahan dunia yang lain kulihat orang-orang bersuka ria dengan kemewahannya. Tidak adakah rasa iba di hati mereka melihat orang-orang kecil seperti mereka dan aku..
Indahnya dunia yang terasa oleh derita, dimanakah cahaya..
Cahaya.. oh cahaya...
Inginku hidup sempurna tak ada air mata anak-anak yang tak berdosa namun inikah jalan hidup yang harus manusia lalui.
Sabar adik-adik dan teman yang kekurangan, hidup ini hanya ujian.. Kau harus bisa melaluinya dan menerimanya denngan rasa syukur.
Pernah suatu waktu aku bersama dengan seorang anak gadis kecil mengatakan padaku : Kakak.. aku pedih dengnan keadaan seperti ini, pahit dengan kenyataan yanng harus aku lalui:
"Dek: kita hanya perlu bersabar disini bukan hidup yanng sesungguhnya, namun ada suatu kehidupan yanng benar-benar sungguh yaitu hidup setelah mati. " Bersabarlah.. dan tetap berusaha untuk lebih baik..
Hanya itu yang bisa kakak berikan untukmu.. maafkan kakak.. salam buat temen-temenmu yang lain disana.
Lalu dia pergi menyusuri jalan kecil sambil berlari.
Esok hari kulihat lagi tak bosan-bosan para anggota geng itu menyiksa anak-anak pengamen itu.
Dimanakah hati nurani mereka?Tuhan.. hatiku menjerit
Aku tak ingin melihat air mata anak-anak jalanan lagi, ku ingin hidup ini tak ada linangan air mata lagi.
Apa yang harus aku lakukan tuhan...
Malam semakin larut, matakupun sudah mulai terpejam denngan menggenggam secarik kertas surat yang ku terima dari anak jalanan itu " Rasti" ya itulah namanya"
Kaka..
Jika aku boleh memilih aku ingin ayah dan ibuku tidak meninggalkan aku seperti ini, sehingga aku tak menjadi anak jalanan. Setiap hari harus mengamen dan mencari sesuap nasi dan menyetorkan uangku pada anggota geng disini sebagian jika tidak kami akan mati kelaparan dan mendapat perlakuan tidak baik dari mereka.
Itulah isi surat yanng rasti berikan padaku, perkenalanku dengnnya membuat dia selalu curhat dan menceritakan kehidupannya denganku.
"Teman-teman, sini lihat aku.. aku mendapat kue kue enak dari ka Nadia.. dia baik sekali, cantik lg.. siapa mau?"
Semua anak-anak itu merebut kue-kue tersebut "aku senang" Alhamdulillah ya Rabby..
Hemm.. ku hempaskan tubuhku dikasur lega dan aku bisa tidur lelap setelah ingat senyum indah mereka menyantap kue-kue yang enak yang ku beli dari tabunganku.
Mudah-mudahan suatu saat nasib akan merubahnya menjadi lebih baik, termasuk kamu Rasti"
Gadis manis, kecil dan baik hati..
Salam sayang dari kak Nadia..
Kepergianku esok hari untuk menuntut ilmu melanjutkan kuliahku membuat aku harus berpisah dengannya..
...............................................................................................................................................................
15 tahun kemudian..
Kak Nadia..!!
Ini Rasti.. anak jalanan yang sering kau nasehati.. kini aku telah menjadi asisten dosen di sebuah universitas..
Terima kasih kak... atas semua nasehatmu.
Aku tidak lupa raut wajahmu yang indah
"Benarkah ini Rasti? Aku seakan tak percaya dan terkejut"
Ya Rabby...
Subhanallah,,
Maha besar Engkau,,,
"Kak..
Mampirlah kerumahku akan aku ceritakan panjang perjalanan hidupku setelah kepergian kakak waktu itu,, kepergian kakak ketika itu membuat Rasti terpukul berat karena tak ada kakak disampingku.
Kami bercengkrama di depan halte bis,,
bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar